Kamis, 07 Januari 2021

Analisis artikel "Moderasi dan Harmoni Beragama dalam Surat Tumbaga Holing Batak Angkola" Artikel berjudul "Moderasi dan Harmoni Beragama dalam Surat Tumbaga Holing Batak Angkola

 Nama: Izmi Syarah Rambe
Nim: 17 201 00016
Mapel: Isbud

Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki beragam suku, agama, ras, dan budaya. Keberagaman tersebut merupakan kekuatan yang dimiliki Indonesia, namun dalam implementasinya, dinamika ekspresi keberagamaan di era demokrasi terkadang berpotensi memunculkan ketegangan dan konflik antar masyarakat, antar umat beragama atau bahkan internal umat beragama. Oleh karena itu, diperlukan moderasi salah satunya moderasi beragama untuk menjaga keharmonisan bangsa. Agar tidak terjadi perpecah belahan. 

Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Moderasi merupakan kebajikan yang mendorong terciptanya harmoni sosial dan keseimbangan dalam kehidupan secara personal, keluarga dan masyarakat" Di suku Batak Angkola sendiri memiliki Konsep Moderasi dan Harmoni Beragama terkandung dalam surat Tumbaga Holing Batak Angkola. Surat Tumbaga Holing ini adalah satu dari surat yang digunakan sebagai landasan filosofis bermasyarakat Batak Angkola itu sendiri. Di dalam Surat Tumbaga Holing Batak Angkola berisi Konsep Way of Life atau Kehidupan bermasyarakat. Dan isi kandungan Surat Tumbaga Holing adalah tentang unsur berkehidupan dan bermasyarakat. 

Salah satu isi kandungan Surat Tumbaga Holing ini adalah Dalihan Natolu "Tungku yang tiga" artinya berkaki tiga harus memiliki keseimbangan yang mutlak Dalihan Natolu menjadi kerangka yang meliputi hubungan-hubungan kerabat darah dan hubungan perkawinan yang mempertalikan satu kelompok. Yang dimana Dalihan Natolu disini membuat sesama kita menjadi lebih erat atau kompak. Sistem kekerabatan dalam Orang Angkola memiliki tiga unsur dasar atau Dalihan Na Tolu yaitu : 1. Kahanggi yaitu saudara laki-laki dari garis keturunan ayah 2. Anak boru yaitu saudara perempuan dari garis keturunan ayah 3. Mora yaitu saudara laki-laki dari pihak isteri kahanggi Ketiga unsur ini saling memegang peran penting dalam lingkungan kekeluargaan masyarakat Orang Angkola. Tutur sapa menjadi lancar kalau ketika unsur ini jelas keberadaanya. 

Ketiga unsur ini saling memerlukan dan berfungsi sesuai dengan kedudukannya. Dalam sistem Dalihan Na Tolu, interaksi sosial antara mora dan anak boru berlandaskan hak dan kewajiban masing-masing terhadap satu sama lain. Sehingga dalam penerapannya, konsep Dalihan Natolu sangat melekat dalam diri masyarakat Batak Angkola, sebagai norma, etika, dan adat yang menjadi landasan.Dan dalihan na tolu akan menumbuhkan rasa saling menghargai, tolong menolong dan peduli antar sesame, dan daliahan na tolu juga mengajarkan kita berperilaku sopan santun.

Analisis artikel 'konsep moderasi dan harmoni beragama dalam surat tumbaga holing Batak angkola

 Nama: Rizky Tanjungsari
Nim: 17 201 00009
Mapel: Islam Budaya Dan Tapanuli

Markoum Marsisolkot di daerah Mandailing adalah tiga kelompok yang berlainan marga rangkul-merangkul atau harus bersatu padu seia sekata menjadi satu. Ketiga Komponen itu adalah mora, kahanggi, dan anak Boru.

 1. Kahanggi. Yang dikatakan komponen kelompok Kahanggi adalah kita sendiri dengan saudara-saudara kita baik yang terdiri dari satu ibu dan satu bapak atau tidak, tetapi harus dari kelompok yang satu marga.
 2. Mora. yang dikatakan kompo koknen kelompok Mora adalah dari kelompok tempat pengambilan anak gadis dalam perkawinan, atau orang tua dan saudara-saudara dari pihak isteri kita.
3. Anak Boru. Yang dikatakan komponen Anak Boru adalah tempat pemberian anak-anak gadis kita dalam perkawinan, atau pihak orang-orang tua dan saudara-saudara dari suami anak-anak gadis kita (kelompok dari menantu).
Dari tiga kelompok inilah yang disebut dalam adat istiadat "Markoum Marsisolkot". Apabila salah satu diantaranya tidak diikut sertakan dalam sesuatu mengadakan upacara adat Mandailing, maka upacara adat tersebut tidak akan tercapai atau terlaksana. Dengan perkataan lain akan batal sama sekali. 


Oleh sebab itulah 3 kelompok ini dituntut dan diwajibkan agar selalu rukun, damai dan menjauhi segala sesuatu yang mengakibatkan pertikaian, dan selalu tolong menolong dalam segala permasalahan. Dikemudian hari adat-istiadat "Markoum Marsisolkot" ini disebut orang dengan adat "Dalihan Na Tolu", dan bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya : Daliahan = batu tungku, Na Tolu = yang tiga. Maksudnya tungku yang tiga (tiga batu Tungku), dan dapat pula diartikan tiga batu tungkusejerangan menjunjung satu wadah atau lembaga adat istiadat Mandailing yang bernama adat "Markoum Marsisolkot".



Analisis artikel "Moderasi dan Harmoni Beragama dalam Surat Tumbaga Holing Batak Angkola" Artikel berjudul "Moderasi dan Harmoni Beragama dalam Surat Tumbaga Holing Batak Angkola

 Nama: Izmi Syarah Rambe Nim: 17 201 00016 Mapel: Isbud Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki beragam suku, agama, ras, dan buday...